Fieldtrip Bondowoso usai UAS Semester 2
Berwisata bersama melepas penat bersama teman Agroteknologi 2015!
Monas kita kejar
Ibukota pun diraih
Festival Reog Nasional 2016 Ponorogo
Kontingen Universitas Jember
Lomba Tari Petik Kopi 2016
Delegasi Fakultas Pertanaian
Praktikum Pembiakan Tanaman
Belajar teknik mencangkok daun
Senin, 02 Mei 2016
Sabtu, 23 April 2016
Selasa, 01 Maret 2016
Video Pembuatan Kain Tenun di Kota Kediri Jawa Timur Indonesia
Video saat pembuatan kain tenun di kota kediri.
Rabu, 24 Februari 2016
Pengenalan Tanaman Penting Dataran Tinggi

Pengenalan Tanaman Penting Dataran Tinggi
LAPORAN PRAKTIKUM
Oleh :
Kelompok 4
1.
Ilham Budi Susilo (151510501037)
2.
Yudi
Imawan (151510501045)
3.
Deni
Syaifur A (151510501097)
4.
Athfin
Rosyid (151510501122)
5.
Rizky
Handayani (151510501125)
6.
Annas
Miftahrurrahman (151510501153)
7.
Okki
Putra M (151510501133)
8.
Ibnur
Ridlo J (151510501140)
9.
Dewi
Aamalia (151510501259)
10.
Dela Dias
P (151510501158)
11.
Diana C (151510501244)
12.
Ade
Pratama (151510501198)
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pertumbuhan
dan perkembangan merupakan ciri mahluk hidup yang ada di bumi. Ada dua faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Adapula faktor internal dari
benih maupun faktor eksternal dari lingkungan tanaman. Faktor internal adalah
faktor dari dalam, meliputi gen dan hormon. Sedangkan faktor eksternal adalah
faktor dari luar, meliputi nutrisi, suhu, cahaya, air, kelembaban, media tanam
dan lain sebagainya. Intensitas cahaya merupakan faktor
penting terhadap berlangsungnya fotosintesis suatu tanaman. Tidak semua energi
cahaya matahari dapat diserap oleh tanaman. Jika cahaya yang diterima tanaman
kurang maka akan menghambat pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan yang terhambat
dapat menyebabkan tanaman tersebut menjadi kerdil atau kecil.
Keberagaman karektertistik topografi di bumi membuat jenis tanaman
yang tumbuh beraneka ragam. Keberagaman tanaman juga ditentukan oleh ketinggian
suatu tanaman tersebut. Perbedaan tanaman dataran tinggi dengan tanaman dataran
rendah adalah ketahanan terhadap intensitas cahaya, kelembapan udara dan suhu.
Setiap kenaikan tinggi 160 meter maka suhu akan meningkat 10C.
Penanaman tanaman harus
disesuaikan dengan sistem agroekologinya,
pemakaian lahan seperti jenis tanaman dan sistem produksi yang tepat
dapat meningkatkan prosuktifitas tanaman. Tanaman dataran tinggi seperti
tanaman perkebunan dan holtikultura dapat dikembangkan sesusai dengan zona
agroekologinya. Karakteristik wilayah dataran tinggi biasanya berbukit,
bergelombang serta bergunung dengan berbagai tingkat kemiringan lahan.
Tanaman dataran tinggi memiliki ciri-ciri khusus untuk mendukung
pertumbuhannya secara optimal. Tanaman dataran tinggi umumnya memiliki
karakteristik hidup disuhu yang rendah dan berada di ketinggian lebih dari 700
meter. Tanaman dataran tinggi tidak
bisa hidup di dataran rendah jika tidak
dilakukan
rekayasa lingkungan seperti aslinya. Hal ini dikarenakan faktor eksternal dari
lingkungan yang sangan mempengaruhi proses fisiologis di dalam tubuh tumbuhan
tersebut.
Pengelompokannya jenis tanaman dataran tinggi terdiri dari
beberapa jenis tanaman hotikultura, pangan dan juga tanaman perkebunan.
Jenis-jenis tanaman ini bisa dikembangkan di dataran tinggi yang di sesuaikan
dengan karakteristik iklim. Iklim yang cocok membuat tanaman tumbuh optimum
sehingga dapat mensejahterakan petani yang menanamnya. Untuk memaksimalkan
pertumbuhan tanaman, kita perlu mengetahui jenis lingkungan yang cocok untuk
suatu tanaman tersebut tumbuh.
1.2 Tujuan
Supaya mahasiswa mengetahui
dan mengenal tanaman-tanaman penting yang berhabitat di daerah dataran tinggi
serta morfologi dan taksonominya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Zona agroekologi
merupakan pengelompokan suatu wilayah berdasarkan keadaaan fisik lingkungan
yang hampir sama di mana keberagaman tanaman serta hewan dapat diharapkan akan
berbeda tidak nyata. Agroekologi disusun oleh tiga komponen utama, yaitu iklim,
bentuk wilayah atau fisiografi dan tanah. Iklim ialah gabungan berbagai kondisi
cuaca sehari-hari dalam kurun waktu yang cukup lama. Topografi merupakan perbedaan tinggi atau bentuk wilayah di suatu daerah, termasuk di
dalamnya ialah perbedaan kecuraman serta bentuk lereng. Topografi merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi hasil. Topografi sebagai salah satu konsep
untuk menyandang pertanian dalam variabel serta tempo yang akan di pengaruhi
oleh beberapa faktor yang harus di perhatikan. Faktor-faktor tersebut
diantaranya adalah tanah, curah hujan dan suhu yang berada di daerah tersebut.
Tanah dapat dilihat dari struktur dan penyusunya, air merupakan jumlah atau
volume total yang ada sedangkan curah hujan akan berpengaruh terhadap vegetasi
yang ada (Kumhalova et al., 2013).
Selain tanah akan tetapi air yang terdapat pada dataran tinggi cukup
mempengaruhi dalam proses keberlangsungan tumbuh dari tanaman (Matsumoto dkk.,
2014).
Keragaman
jenis tanaman di suatu wilayah ditentukan oleh interaksi antara genotipe
tanaman tersebut dengan faktor lingkungan. Hal tersebut menyebabkan adanya
perbedaan morfologi dari suatu jenis tanaman. Perbedaannya ada yang dapat
dilihat secara langsung dan ada juga yang harus melakukan pengamatan dengan
pengukuran untuk mengetahui perbedaannya. Perbedaan yang memerlukan pengamatan
dengan pengukuran, misalnya tingkat produksi, jumlah anakan, tinggi tanaman dan
lainnya (sifat kuantitatif) dan perbedaan yang dapat dilihat secara langsung
misalnya perbedaan bentuk biji, daun
maupun warna bunga (sifat kualitatif). Perbedaan produktivitas dari setiap
varietas tidak hanya bergantung pada
sifatnya, namun dipengaruhi juga
oleh situasi serta
kondisi daerah tersebut (Jasmi, 2013).
Pertumbuhan tanaman
dipengaruhi oleh tiga faktor lingkungan. Faktor pertama ialah iklim yang
meliputi udara, radiasi matahari, angin, dan kelembapan. Iklim yang berpengaruh
pada tanah ialah hujan, secara mekanis air hujan akan mengikis bagian permukaan
tanah yang merupakan bagian tanah yang subur (Perez-Candel et al., 2012). Faktor kedua adalah tanah dan kandungan unsur hara
yang ada di dalam tanah. Faktor ketiga adalah biotik, seperti gulma, hama, dan
penyakit tanaman. Pertumbuhan tanaman pada umunya dipengaruhi oleh habitatnya.
Habitat tanaman bergantung ketinggian daerah tumbuhnya atau topografinya.
Topografi suatu habitat mempengaruhi
keadaan iklim mikro, suhu intensitas cahaya dan kondisi solum tanah. Iklim
mikro dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan. Modifikasi tersebut
diantaranya adalah pembuatan naungan, penutupan tanah serta pemanasan
(Kartasapoetra dkk., 1987). Menurut Yulianti dalam Kesumawati (2012), pemberian
naungan dapat menurunkan suhu udara dan meningkatkan kelembaban. Jika tanaman
terlalu berlebihan mengalami paparan sinar matahari yang, maka tanaman tersebut
dapat mati dikarenakan suhu ekstrem yang tanaman terima.
Pada umumnya, tanaman
tropis yang berasal dari daerah dataran tinggi lebih gampang beradaptasi di
daerah dengan iklim empat musim (Rahayu, 2012). Lokasi tanam akan berpengaruh
pada kelembapan udara, suhu udara, angin, dan sinar matahari. Unsur-unsur
tersebut sangat berpengaruh kepada proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Semakin tinggi suatu tempat maka semakin rendah suhu udaranya, serta sebaliknya
semakin rendah suatu lokasi tanam maka suhu yang dilokasi tersebut semakin
tinggi. Tanaman dataran tinggi memiliki kondisi lingkungan tertentu untuk dapat
bertahan hidup. Salah satu diantaranya adalah ketinggian, semakin tinggi tempat
tanam, maka semakin meningkat pula tinggi
tanaman dan panjang yang terbentuk (Wahyu dkk., 2013). Biasanya kondisi
ketinggian lebih dikenal sebagai kondisi suhu. Lingkungan dataran tinggi
memiliki rata-rata suhu harianya 20,750 (Kusumayadi, 2013). Suatu daerah dapat dikatakan dataran tinggi jika
memiliki ketinggian yang lebih dari 700 meter dpl (Ratnasari, 2007). Salah satu
contoh tanaman dataran tinggi adalah bunga krisan dan buah naga.
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1
Waktu dan Tempat
Kegiatan
praktikum mata kuliah Pengantar Ilmu Tanaman dengan judul “Pengenalan Tanaman
Penting Dataran Tinggi” dilaksanakan pada hari Minggu, 7 November 2015 pukul
07.00 WIB sampai dengan selasai di Desa Rembangan Lor, Kabupaten Jember.
3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Tanaman
yang diamati
3.2.2 Alat
1. Tabel
pengamatan
2. Alat
tulis
3. Penggaris
4. Meja
dada
3.3 Cara Kerja
1.
Menyiapkan alat dan bahan.
2.
Menetapkan objek tanaman yang diamati.
3.
Gambar bentuk tanaman yang diamati dan diberi keterangan bagian-bagiannya.
4.
Isilah tabel pengamatan.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel Hasil
Pengamatan Tanaman Dataran Tinggi
|
No.
|
Jenis Tanaman
|
Gambar Tanaman
|
Keterangan
|
|
1.
|
Selada
Merah
|
![]() |
Akar : tunggang dan serabut
Batang: halus panjang bulat
Daun: bergelombang, menyirip, merah kehiajuan
Bunga: berwarna kuning
Biji: lonjong, pipih, keras, berwarna coklat tua,
sangan kecil.
|
|
2.
|
Stroberi
|
![]() |
Akar: serabut
Batang:
berbulu, warna hijau
Daun:
bergerigi dan menyirip.
Bunga:
berwarna putih
Buah: oval,
berwarna merah
Biji: diluar
kuning kecoklatan, jika masak berwarna hitam.
|
|
3.
|
Buah Naga
|
![]() |
Merupakan
tanaman hortikultura.
Akar: serabut.
Batang:
sukulen
Bunganya
berbentuk corong, buahnya bulat berwarna merah.
Biji: kecil
berwarna hitam
|
|
|
Bunga Krisan
|
![]() |
Akar:
serabut
Batang:
bulat tegak
Daun:
bergerigi
Bunga:
besar, lebih dari 10cm
Buah:
lonjong
Biji:
coklat kehitaman.
Digunakan
sebagai dekorasi suatu acara
|
4.2 Pembahasan
Tanaman
Selada Merah merupakan tanaman yang berasal dari daratan Asia dan Eropa. Nama
latin tanaman Sambang Darah adalah Lactuca sativa, yang berasal dari famili Asteraceae. Tanaman ini termasuk tanaman yang yang memiliki banyak jenis atau
varietas, namun dari banyak varietas itu yang paling sering dijumpai di pasar
adalah selada merah dan selada hijau. Tanaman ini banyak digunakan sebagai
sayuran untuk diambil daunya.
Tanaman selada merah hidup di wilayah dataran
tinggi. Tanaman selada merah dapat hidup baik pada ketinggian di dataran sedang
sampai dataran tinggi, yaitu sekitar 0-1000 meter dpl. Tanaman yang tergolong
tanaman semusim ini umumnya dibudidayakan di bedengan (skala besar), namun
untuk skala kecil cukup di green house.
Salah satu jenis tanaman sayur yang mengandung zat
besi dan vitamin adalah tanaman selada.
Selada merah banyak dijumpai di pasar dan swalayan, tanaman ini banyak
dijadikan berbagai olahan di Indonesia. Tanaman selada merah umumnya dikonsumsi
dalam bentuk segar, seperti menjadi campuran makanan gado-gado, isi dari burger
serta dibuat menjadi salad. Selain itu dapat juga dijadikan hiasan makanan dan
lalapan mentah (Muhlisah dan Hening, 2009).
Tanaman
selada merah mempunyai tinggi sekitar 0,3m sampai 1m, tergantung varietas
tanamanya. Akarnya tergolong ke akar tunggang, namun pada akar tunggang
tersebut terdapat akar-akar serabut yang menempel pada batang. Arah tumbuh akar
tunggang lebih lurus ke dalam, sedangkan arah tumbuh akar serabut menyebar ke
sekitar tanaman. Akar tanaman selada merah tidak bisa dimanfaatkan menjadi
olahan.
Batang
tanaman selada merah berbentuk bulat panjang dan halus. Tanaman selada merah
yang diukur saat praktikum diameter batangnya adalah 2cm, sedangkan panjang
batangnya adalah sekitar 100cm. Batang selada merah memiliki warna hijau
keputihan. Batang utamanya lurus tegak ke atas serta bercabang-cabang.
Daun
tanaman selada merah memiliki ciri bergelombang, tulang daunya menyirip. Warna
pada tengah daunya adalah, namun pada tepinya berwarna unggu serta bergelombang
atau bergerigi. Tekstur dari daun selada merah renyah seperti gubis, karena itu
daun selada merah tidak jarang digunakan sebagai lalapan segar. Daun yang
diambil saat penen ciri-cirinya adalah berwarna merah tua kecoklatan. Cara
panennya adalah memetik daun yang sudah memenuhi syarat panen.
Bunga
selada merah memiliki warna kuning. Letak bunganya di ujung dari tanaman ini,
jadi letak bunganya di bagian atas. Bunganya tumbuh di ujung cabang-cabang
batang tanaman selada. Bunga tanaman selada merah menjadi penanda pada tumbuhan
ini, jika bunga sudah tumbuh maka tanaman ini sudah tidak layak jual. Buah
tanaman selada merah tidak berdaging serta memiliki banyak biji. Bentuknya polong
dan berukuran sangat kecil. Bijinya lonjong, pipih, keras, berwarna coklat tua
dan sangat kecil.
Cara
penanaman tanaman selada merah yaitu disemai dilahan gembur lalu ditambah
dengan pupuk kandang. Cara persemaian atau budidaya tanaman selada merah yaitu
melalui biji. Cara pengolahan tanahnya yaitu dengan cara dibajak dan digaru
sampai gembur. Jarak tanaman yang tepat adalah 50cm x 20cm. umur panen tanaman
ini sekitar 40-60 hari setelah disemai, umumnya selada daun dipanen sekaligus
tanamanya (Haryanto, 2007). Tanaman ini jarang terkena serangan penyakit,
jikapun terkena maka akan di semprot menggunakan pestisida. Sortasi daun
selada berdasarkan kualitas
daun, daun yang
lebar dan berwarna
cerah memiliki
kualitas tinggi. Penyimpananya selama 10-14hari pada suhu kamar dan di pack dalam plastik. Pemasaran selada
merah di Indonesia masih di pasar domestik, sedangkan harganya adalah Rp.
1000-Rp. 2000/tanamanya.
Stroberi
(Fragaria sp.) adalah tanaman buah
yang di temukan pertama kali di Chile yaitu spesies Fragaria chiloensis L. yang menyebar ke berbagai negara Amerika,
Eropa serta Asia (Kesumawati dkk., 2012). Nama latin spesies tanaman ini adalah
Fragaria Vesca L. termasuk kedalam
family Rosaeae. Tanaman ini sekarang banyak digunakan menjadi berbagai olahan,
terutama dalam hal pangan.
Tanaman
stroberi umumnya ditanam di daerah dataran tinggi. Tanaman ini tumbuh baik pada
ketinggian 1000m-1500m dpl dan suhu 17-200C. Tanaman yang tergolong
ke keluarga rumput termasuk ketanaman monokotil dan C4. Tanaman stroberi
dibudidayakan dibedengan-bedengan jika skala luas, namun untuk skala kecil
menggunakan polybag sebagai media tanam. Buah stroberi dapat dipanen dua minggu
setelah berkembang. Tanaman stroberi juga dapat ditanam di green house jika kondisi lingkungan tidak mendukung untuk menaman
stroberi.
Buah stroberi mengandung banyak vitamin C, selain
itu juga terdapat vitamin A, B, E, sodium, fosfor dan zat besi. Tanaman
stroberi banyak dijumpai di swalayan dan toko buah. Buah stroberi dapat dimakan
secara langsung, dapat juga dioalah menjadi berbagai olahan seperti selai, jus,
campuran susu, hiasan makanan dan perasa makanan.
Tanaman stroberi mempunyai tinggi sekitar 0,5m-1m,
tergantung tempat penanamanya. Akarnya tergolong ke akar serabut. Akar pada
tanaman stroberi juga terdapat stolon. Stolon inilah yang biasanya digunakan
sebagai bibit tanaman stroberi. Batang tanaman stroberi berbentuk bulat panjang
dan halus. Batangnya beruas-ruas, tertutupi oleh daun sehingga nampak seperti
rumput. Saat praktikum sampel batang yang diambil memiliki panjang 14,5cm.
Warna batangnya hijau kekuningan serta berbulu tipis.
Bunga tanaman stroberi mahkotanya berwarna putih dan
berjumlah lima. Diameter bunga yang diaamati saat praktikum adalah 1,5cm.
Benang sarinya berwarna kuning, warna ini sangat menarik bagi hewan polinator.
Penyerbukan pada stroberi dilakukan oleh angina serta serangga seperti lebah
dan kupu-kupu. Buah tanaman stroberi berwarna merah dengan bintik-bintik kecil
berwarna kuning. Ukuran serta ukuran menjadi tolak ukur buah troberi saat
dijual di pasaran. Saat praktikum, sampel buah yang diambil ukuranya adalah
2,5cm. biji tanaman stroberi di luar berwarna kuning kecoklatan, sedangkan saat
masak warnanya berubah menjadi hitam.
Cara penanaman tanaman stroberi yaitu dengan cara
pordus dan bedengan. Jika menggunakan bedengan ukurannya adalah 100x60cm dan
tingginya ialah 30-60cm. Pembibitanya dengan cara biji dan stolon, tergantung
keadaan. Pemupukan tanaman ini dengan urea, SP36 dan KCl. Pengairanya dengan
cara langsung disiram, cukup sampai tanah lembab. Ciri-ciri panenya adalah buah
sudah kenyal dan berwarna merah, umur panenya 2 minggu setelah berkembang dan
cara panenya dipotong pada bagian kelopak. Buah stroberi sortasinya berdasarkan
ukuran serta warna buah. Kemudian pengemasan buahnya adalah dikemas rapat
menggunakan plastik dan disimpan di lemari pendingin agar buah tetap segar saat
sampai ditangan konsumen.
Bunga krisan merupakan salah satu spesies yang
sangat populer dan tumbuh sebagai tanaman penghias dan bunga pot atau bunga
potong (Permana dkk., 2013). Nama latin bunga krisan ialah Chrysanthemum Indicum, yang berasal dari family Asteraceae. Tanaman tergolong ke tanaman
hias, bagian yang diambil adalah bunganya. Bunganya digunakan sebagai hiasan
dekorasi saat acara pernikahan dan acara lainya.
Tanaman bunga krisan dapat hidup maksimal diwilayah
dataran tinggi. Tanaman krisan merupakan tanaman semusim yang biji kepingnya
tergolong dikotil dan tipe perkecambanya epigeal. Struktur batang tanaman
krisan adalah berkayu. Tanaman ini banyak dijumpai di tempat-tempat dekorasi.
Akar
tanaman krisan termasuk akar serabut. Akarnya masuk ke dalam tanah sedalam
30cm-40cm. Batangnya berbentuk bulat serta tegak dan lunak. Warna batangnya
adalah hijau, jika dibiarkan tumbuh terus maka batang akan menjadi berkayu atau
keras. Daun tanaman ini berwarna hijau agak tua. Daun ini tepinya bergerigi,
sedangkan bunga tanaman ini besarnya lebih dari 10cm. Biji dari tanaman ini
berwarna coklat kehitaman.
Menurut
Tedjasarwana dkk., (2011), untuk mendapatkan kualitas bunga krisan potong yang
baik, disamping memperhatikan varietas yang ditanam, juga perlu teknik budidaya
yang benar, yaitu meliputi penyiapan rumah plastik, media tumbuh, pengaturan
panjang hari, penyiraman, pemupukan, perlindungan tanaman, serta perlakuan
pascapanen. Cara penanaman tanaman krisan yaitu ditanam langsung dilahan yang
tersedia, sedangkan cara persemaianya adalah dengan cara stek. Pengolahan tanah
tanaman krisan adalah olah tanah musiman dan sistemnya monokultur. Pemupukan
tanaman inin menggunakan pupuk organik atau pupuk kandang. Pengairanya jika
ditanam di pot menggunakan pompa air, jika dikebun alias bedengan menggunakan
irigasi sawah.
Hama
yang sering menyerang tanaman krisan adalah wereng dan ulat tanah. Pengendalian
gulmanya denga cara dilakukan penyiangan. Ciri-ciri waktu panen bunga krisan
ialah saat kuncup sudah mekar atau pada umur panen 3 bulan. Cara panenya yaitu
dengan cara diptong atau dicabut tanamanya langsung. Sortasinya ada dua, yaitu
standart dan spray. Kemudian pengemasanya adalah dibungkus menggunakan kertas.
Penjualan bunga krisan yaitu masih di pasar domestik, penjualanya langsung
ketoko-toko. Harga dari bunga krisanya untuk sekuntum bunga standart adalah Rp.
15.000, sedangkan untuk sekuntum bunga spray
ialah Rp. 14.000.
Salah
satu tanaman buah yang saat ini sedang populer di masyarakat ialah buah naga
(Wisesa, 2014). Tanaman buah naga merupakan tanaman yang berasal dari daratan
Amerika. Nama latin tanaman ini ialah Hylocereus
Polyrizus, yang berasal dari family Hylocereae. Tanaman ini tergolong
tanaman yang memiliki banyak
varietas, namun varietas
yang banyak di
Indonesia adalah buah
naga
merah dan buah
naga putih. Tanaman buah naga termasuk tanaman yang tidak lengkap karena tidak memiliki
daun. Tanaman ini banyak digunakan sebagai minuman karena rasnya yang segar.
Tanaman
buah naga dapat hidup di dataran rendah dan tinggi, namun kebanyakan tanaman
buah naga dapat hidup maksimal di dataran tinggi. Ketinggianya anatara 0-1200m,
namun yang terpenting adalah kebutuhan sinar matahari tercukupi secara baik.
Tanaman yang tergolong ke tanaman hortikultura ini biasanya dibudidayakan di
tanah langsung, namun untuk skala kecil dapat menggunakan drum sebagai tempat menumbuhkanya. Buah naga merah memiliki warna
merah yang sangat menarik yang disebut antosianin (Simanjuntak dkk., 2014).
Kandungan gizi yang paling banyak dalam buah naga adalah vitamin C dan karoten.
Buah naga banyak dijumpai di toko buah, pasar dan swalayan. Buah naga umumnya
dikonsumsi langsung, dibuat minuman dan juga sebagai pewarna. Kulit buah
nagalah yang dijadikan pewarna alami.
Akar
tanaman ini tergolong ke dalam akar serabut namun pada batang bagian atas
menjadi akar gantung. Saat tumbuh kedalaman akar buah naga sekitar 50cm. Akar
buah naga tahan terhadap kekeringan, namun tidak jika terhadap kelebihan air.
Batang tanaman naga berwarna hijau dan bentuknya segitiga. Batang tanaman naga
akan berlapis lilin jika tanaman sudah dewada. Batang tanaman ini berduru,
namun kecil dan tidak mencolok. Bunga buah naga berwarna krem dan mekar saat
sore menjelang malam. Saat mekar bunga ini mengeluarkan aroma sehingga menarik
hewan untuk menyerbukinya.
Buah
tanaman naga ada yang berwarna merah ada yang berwarna putih. Bentuk buahnya
bulat lonjong, kulitnya yang seperti mengelupas membentuk mirip kepala naga.
Biji buah naga berwarna hitam, letaknya di dalam daging buah. Bijinya langsung
dimakan bersamaan dengan daging buah naga.Cara penanaman buah naga ialah dengan
cara membuat lubang sedalah 40x40 cm dengan jarak tanam 3x3 m. Cara persemainya
adalah dengan cara stek batang. Pemupukanya menggunakan pupuk organik.
Pengairan tanaman ini saat musim kemarau yaitu satu minggu sekali sedangkansaat
musim hujan tidak perlu penyiraman. Penyakit yang menyerang tanaman ini jarang
ada, yang ada ialah hama semut merah. Cara penanggulanganya ialah dengan
insektisida, sedangkan gulmanya dicabut adau disiangi.
Umur
panen tanaman naga adalah 2-3 bulan, ciri-cirinya adalah wana buah sudah merah
dan berukuran besar. Cara panenya adalah memotong buahnya langsung dari ujung.
Sortasi buah naga ialah berdasarkan ukuran besarnya. Pengemasanya menggunakan
plastik atau kardus. Harga buah naga saat musimnya adalah Rp. 15.000/kg.
BAB 5. KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1
Kesimpulan
1. Tanaman
selada merah merupakan tanaman yang berakar tunggang dan serabut, batangnya
berbentuk bulat panjang dan halus serta berwarna kehijauan. Daunya bergelombang
dan bunganya berwarna kuning bijinya berwarna coklat tua. Tanaman ini banyak
dikonsumsi secara langsung, seperti jadi lalapan dan salad.
2. Tanaman
stroberi merupakan tanaman yang berakar serabut, batangnya berbulu dan berwarna
hijau. Bunga tanaman ini berwarna putih serta bentuk buahnya oval dan berwarna
merah dengan bintik kuning di kulitnya. Biji tanaman stroberi berwarna hitam
jika sudah masak dan berwarna kuning diluarnya. Tanaman ini banyak diolah
menjadi minuman dan selai.
3. Tanaman buah
naga merupakan tanaman hortikultura. Akarnya termasuk akar serabut, sedangkan
batangnya sukulen. Bunga tanaman buah naga berbentuk corong. Buahnya berwarna
merah dan berbentuk bulat. Bijinya berwarna hitam. Bagian yang dipanen adalah
buahnya, buah naga dapat dikonsumsi langsung serta dijadikan olahan seperti
selai dan minuman.
4. Tanaman
krisan merupakan tanaman hias yang memiliki akar serabut. Batangnya berbentuk
bulat dan tegak. Daunya bergerigi sedangkan bunganya besar, lebih dari 10cm.
Bijinya coklat kehitaman. Bunga krisan sering digunakan menjadi hiasan dekorasi
suatu acara.
5.2
Saran
Sebaiknya
praktikan diberi ruang untuk mengunjungi tanaman yang dijadikan praktikum,
karena saat praktikum akibat waktu yang kurang membuat praktikan tidak dapat
mengunjungi seluruh tanaman yang dijadikan bahan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Jasmi., E. Sulistyaningsih dan D.
Hermawan. 2013. Pengaruh Vernalisasi Umbi terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan
Pembuangan Bawang Merah (Allium cepa L.
Aggregatum group) di Dataran Rendah. Ilmu
Pertanian, 16(1): 42-57.
Kesumawati, E., E. Hayati dan M.
Thamrin. 2012. Pengaruh Naungan dan Varietas terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Stroberi (Fragaria sp.) di
Dataran Rendah. Agrista, 16(1):
14-21.
Kumhálová,
J., F. Kumalam, P. Novak and Š. Matějková. 2013. Airborne Laser Scanning Data
as A Source of Field Topographical Characteristics. Plant Soil Environ, 59(13): 423-431.
Kusumayadi, I.
W. K., I. M. Sukewijaya. I. K. Sumiartha dan N. S. Antara. 2013. Pengaruh
Ketinggian Tempat, Mulsa dan Jumlah Bibit terhadap Pertumbuhan dan Rendemen
Minyak Sereh Dapur (Cymbopogon Citratus).
Agroteknologi Tropika, 2(1), 49-55.
Matsumoto, S.,
T. Tsubo, G. Asea, A. Maruyama, M. Kikuchi and M.Takagaki. 2014. Water Response of Upland Rice Varieties Adopted in
Sub-Saharan Africa:
A Water Application
Experiment. J
Rice Res,
2(1): 1-6.
Permana, I. M. R., I. K. Suamba dan P.
U. Wijayanti. 2013. Bauran Pemasaran Bunga Krisan pada Kelompok Usaha Bersama
Manik Mekar Nadi di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangase. Agribisnis dan Agrowisata, 2(1): 12-22.
Perez-Candel,
D., J. C. Linares and M. E. Lucas-Borca. 2012. Assessing Climate–growth
Relationships Under Contrasting Stands of Co-occurring Iberian Pines Along an
Altitudinal Gradient. Forest Ecology and
Management, 274(1): 48-57.
Rahayu, S.
2012. Potensi dan Konservasi Jenis-Jenis Hoya Dataran Tinggi Pulau Jawa. Hayati, 18(1): 1-7.
Ratnasari, J.
2007. Galeri Tanaman Hias Bunga.
Jakarta: Penerbit Swadaya.
Simanjuntak,
L., C. Sinaga dan Fatima. 2014. Ekstraksi Pigmen Antosianin dari Kulit Buah
Naga Merah (Hylocereus polyrhizus). Teknik Kimia, 3(2): 25-29.
Sutedjo,
M. M., A. G. Kartasapoetra. 1991. Pengantar
Ilmu Tanah. Jakarta: Rineka Cipta.
Tedjasarwana,
R., E.D.S. Nugroho dan Y. Hilman. 2011. Cara Aplikasi dan Takaran Pupuk
terhadap Pertumbuhan dan Produksi Krisan. Hort,
21(4): 306-314.
Wahyu, Y., A. P. Samosir dan S. R.
Budiarti. 2013. Adaptabilitas Genotipe Gandum Introduksi di Dataran Rendah. Bul. Agrohorti, 1(1): 1-6.
Wisesa, T. B.
dan S. M. Widjanarko. 2014. Penentuan Nilai Maksimum Proses Ekstraksi Kulit
Buah Naga Merah. Pangan dan Agroindustri, 2(3): 88-97.
Pertumbuhan Meristematik Pucuk dan Akar

Pertumbuhan
Meristematik Pucuk dan Akar
LAPORAN PRAKTIKUM
Oleh :
Kelompok 4
1.
Ilham Budi Susilo (151510501037)
2.
Yudi
Imawan (151510501045)
3.
Deni
Syaifur A (151510501097)
4.
Athfin
Rosyid (151510501122)
5.
Rizky
Handayani (151510501125)
6.
Annas
Miftahrurrahman (151510501153)
7.
Okki
Putra M (151510501133)
8.
Ibnur
Ridlo J (151510501140)
9.
Dewi
Aamalia (151510501259)
10.
Dela Dias
P (151510501158)
11.
Diana C (151510501244)
12.
Ade
Pratama (151510501198)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
LABORATURIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Seluruh
mahluk hidup yang ada dibumi pasti akan mengalami perubahan-perubahan. Proses
perubahan tersebut ialah pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan merupakan
suatu proses bertambahnya ukuran tubuh yang meliputi tinggi, berat, volume
tubuh yang bersifat irreversible atau
tidak dapat kembali ke bentuk awal. Pertumbuhan dan perkembangan juga dialami
oleh tanaman. Perkecambahan adalah awal dari pertumbuhan pada tanaman.
Perkecambahan dibagi menjadi dua, yaitu perkecambahan hipogeal dan
perkecambahan epigeal.
Pertumbuhan
pada tanaman merupakan hasil dari proses pembelahan sel yang terjadi di
meristem. Pertumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu pertumbuhan primer dan
pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer dipengaruhi oleh jaringan meristem
primer, sedangkan pertumbuhan sekunder dipengaruhi oleh jaringan meristem
sekunder. Meristem adalah jaringan yang aktif membelah melalui pembelahan
mitosis.
Jaringan
meristem merupakan jaringan muda yang masih memiliki kemampuan untuk aktif
membelah. Jaringan meristem dibagi menjadi dua, yaitu jaringan meristem primer
dan jaringan meristem sekunder. Jaringan meristem primer adalah jaringan
meristem pada tumbuhan dewasa yang sel-selnya aktif membelah diri. Letaknya di ujung akar dan ujung tajuk.
Jaringan ini menyebabkan pertumbuhan primer. Pertumbuhan primer ialah
pertumbuhan ke arah atas yang mengakibatkan perpanjangan akar dan batang.
Meristem
sekunder ialah jaringan meristem yang mengakibatkan pertumbuhan ke arah samping
akibat aktivitas dari kambium. Kambium dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
kambium gabus, kambium fasis dan kambium interfasis. Pertumbuhan kambium gabus
menghasilkan jaringan gabus. Kambium fasis berperan membentuk xilem sekunder ke
arah dalam dan membentuk floem sekunder ke arah luar, selain itu juga
menghasilkan sel-sel hidup yang berderet-
deret menurut
arah jari-jari dari bagian xilem ke bagian floem atau disebut jaringan empulur.
Kambium interfasis merupakan kambium yang membentuk jari-jari empulur.
2.1
Tujuan
Supaya mahasiswa memahami dan
mengerti pertumbuhan pada tumbuhan dan bagian-bagian tajuk dan akar yang
mengalami pertumbuhan meristematik dominan.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Seluruh mahluk hidup yang hidup di bumi pasti akan mengalami
pertumbuhan dan perkembangan, termasuk pula tanaman. Tanaman merupakan mahluk
hidup yang dapat memproduksi makanan sendiri (Nurwadani, 2008). Pertumbuhan dapat
diartikan pertambahan volume dan massa tanaman atau bisa juga sebagai
suatu proses pertambahan volume, massa, ukuran, jumlah sel yang bersifat irreversible.
Pertambahan volume ditunjukkan oleh
pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer merupakan
pertumbuhan yang terjadi karena aktivitas jaringan meristem apikal yang terus
tumbuh dan aktif memberlah diri. Pertumbuhan primer terjadi pada jaringan
meristem (ujung pucuk dan akar) berupa
pertambahan tinggi atau vertical.
Pertumbuhan sekunder hanya terjadi pada tumbuhan dikotil yang terdapat jaringan
kambium. Pertumbuhan sekunder terjadi di jaringan kambium dan ditunjukkan oleh
pertambahan diameter (Darmawan dan Baharsjah dalam Wasis dkk., 2015). Kambium
membelah kearah dalam membentuk kayu, dan membelah ke arah luar membentuk kulit
kayu. Kambium aktif ditandai dengan vakuola kecil yang dikelilingi oleh
sitoplasma padat, sedangkan kambium aktif mengandung vakuola pusat yang besar
(Prislan, 2011).
Jaringan meristem merupakan jaringan
yang terus melakukan pembelahan untuk menambah jumlah sel-sel pada tanaman
(Huang et al., 2014). Meristem adalah
sel yang aktif membelah atau menanggapi isyarat posisi yang mengarahkan perkembangan
organ tanaman baru (Eveland, 2011). Sel meristematik mempunyai ciri-ciri yaitu
aktif membelah, selnya berdinding tipis, selnya berukuran kecil, cukup banyak
mengandung protoplasma, memiliki nucleus yang besar, tidak memiliki ruang antar
sel, ukuran vakuolanya sangat kecil, bentuknya lebih isodiametris daripada sel
dewasa (Mulyani, 2006). Jenis meristem ada dua, yaitu meristem primer dan
meristem sekunder. Meristem primer adalah jaringan meristem yang menyebabkan
batang dan akar semakin tingi, meristem ini terdapat di ujung akar dan batang. Meristem
sekunder merupakan jaringan yang bermula dari perkembangan jaringan meristem
primer. Meristem interkalar adalah meristem yang terletak diantara jaringan
dewasa, sedangkan meristem lateral ialah meristem yang berada sejajar dengan
tempat ditemukanya pada bagian tumbuhan, contohnya adalah kambium (Fahn, 1982).
Pertumbuhan meristem pucuk
menyebabkan pertumbuhan yang memanjang pada organ tumbuhan (Hayati, 2006). Meningkatnya
laju pembelahan sel-sel meristematik secara longitudinal pada ujung tunas dan
secara lateral pada batang merupakan efek dari suplai nitrogen yang cukup
tinggi sehingga memicu laju pertambahan tinggi dan diameter batang serta
pembentukan organ daun berlangsung
secara cepat (Tuheteru, 2011). Nitrogen juga memiliki peranan, peranya ialah
merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya pada cabang,
batang, dan daun (Sitompul dkk., 2014).
Jaringan yang pertama kali
berkembang ialah jaringan kambium yang tumbuh membentuk sel-sel kalus yang
selanjutnya menjadi floem dan xilem (Adinugraha, 2012). Sel xilem merupakan sel
yang berbentuk cincin dan berdinding tebal (Susanti, 2014). Xilem berfungsi
mengangkut nutrisi terlarut dan air dari bagian akar ke seluruh tanaman. Floem
berguna untuk transportasi hasil dari fotosintesis, yaitu dari daun ke seluruh
tubuh tumbuhan.
Terdapat tiga daerah atau zona
pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman, yaitu daerah pembelahan, daerah
pemanjangan dan daerah diferensiasi. Zona pembelahan terdapat di ujung akar dan
batang, selnya aktif membelah. Zona pemanjangan ialah hasil pembelahan sel-sel
meristem ukuranya bertambah besar sehingga sehingga menjadi bagian dari zona
pemanjangan. Daerah diferensiasi ialah daerah dimana sel berdiferensiasi
menjadi pola radial, sehingga sel berubah bentuk sesuai fungsinya (Bazin et al., 2013).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Pengantar
Ilmu Tanaman dengan judul “Pertumbuhan
Meristematk Pucuk dan Akar” dilaksanakan pada hari Minggu
tanggal 11
Oktober 2015 pada pukul 11.00 – 12.00 WIB. Bertempat di Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember.
3.2 Bahan
dan Alat
3.2.1 Bahan
1.
Kecambah kacang
tanah
2.
Aquadest
3.
Tinta hitam
4.
Bibit kacang
panjang yang dikecambahkan dalam polybag
3.2.2
Alat
1.
Kertas filter
2.
Beaker glass
3.
Object glass
4.
Benang
5.
Penggaris
3.3 Cara Kerja
3.3.1
Pertumbuhan
Akar
1. Menyediakan suatu ruangan yang lembab dengan jalan melapisi
sisi dalam beaker glass dengan kertas filter basah/ lembab.
2. Melapisi object glass dengan kertas filter kasar dan
basah.
3. Memilih kecambah
kacang tanah yang baik (lurus) dan sehat dengan akar lebih dari 1 cm.
4. Memberi tanda
kecil (titik) pada 5 biji dengan tinta sebanyak 10 tanda mulai dari ujung akar
dengan jarak interval 2 mm. Memberi tanda pada kecambah yang lain dengan jarak
10 mm dari ujung akar sebagai kontrol.
5. Meletakkan kecambah-kecambah tersebut pada object glass
dengan diikat. Mengusahakan agar ujung akar selalu menempel pada kertas filter.
Memasukkan kecambah kedalam beaker glass yang lembab kemudian disimpan ditempat
yang gelap.
3.3.2
Pertumbuhan
Pucuk
1.
Menanam
7 biji kacang panjang dalam bak pasir dan membiarkan biji beretiolasi selama 4
hari ditempat yang gelap.
2.
Memberi
10 tanda pada epikotil dari 5 kecambah dengan interval 2 mm yang diambil dari
pucuk tanaman dengan menggunakan tinta cina.
3.
Menandai 2 kecambah
yang lain dengan satu tanda 20 mm dari pucuk tanaman sebagai kontrol, kemudian
menempatkan kecambah pada tempat yang gelap.
BAB
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Tabel 4.1 Pengamatan Kacang Panjang
|
No
|
Jenis Tanaman
|
Gambar dan Bagian Kecambah
|
Int
|
Pengamatan Tajuk (mm)
|
|
|
H0
|
H2
|
||||
|
1
|
Kacang panjang
|
![]() |
1
|
2 mm
|
4 mm
|
|
2
|
2 mm
|
6,2 mm
|
|||
|
3
|
2 mm
|
8 mm
|
|||
|
4
|
2 mm
|
5,6 mm
|
|||
|
5
|
2 mm
|
5,2 mm
|
|||
Tabel 4.2 Pengamatan Kacang Tanah
|
No
|
Jenis tanaman
|
Gambar dan bagian kecambah
|
Int
|
Pengamatan akar (mm)
|
|
|
H0
|
H2
|
||||
|
1
|
Kacang tanah
|
![]() |
1
|
2 mm
|
4,6 mm
|
|
2
|
2 mm
|
2,6 mm
|
|||
|
3
|
2 mm
|
2,2 mm
|
|||
|
4
|
2 mm
|
2,6 mm
|
|||
|
5
|
2 mm
|
2,6 mm
|
|||
4.2
Pembahasan
Berdasarkan
hasil pengamatan pada dua jenis tanaman yang berbeda, dapat diperoleh informasi
data mengenai pertumbuhan pada tanaman yang telah diukur. Pada tabel 4.1
pertumbuhan tanaman kacang panjang yang paling cepat terjadi di interval 2 dan
3. Tajuk terpanjangnya terjadi pada interval 3 dengan panjang tajuk 8mm.
Sedangkan pada interval 1 justru terjadi pertumbuhan paling pendek, yaitu 4mm.
Pada tabel 4.2 pertumbuhan pada kacang tanah yang paling cepat terjadi di
interval 1, yaitu dengan panjang tajuk 4,6mm. Sedangkan pada interval 3 justru
panjang tajuknya lebih pendek dibanding dengan interval lain, yaitu dengan
panjang 2,2 mm. Jadi dari data di atas, pertumbuhan tanaman di pucuk lebih
cepat daripada di ujung akar.
Pada
tabel 4.1 interval 2 dan 3 tergolong dalam zona elongasi atau pemanjangan
karena tajuknya lebih panjang dibanding interval lain. Hal tersebut karena
kedua interval tersebut mengalami pemanjangan paling baik. Sedangkan pada
interval 4 dan 5 termasuk dalam golongan zona diferensial. Sedangkan interval 1
ialah termasuk dalam zona pembelahan. Pada tabel 4.2 interval zona pemanjangan
akar kacang tanah terjadi di interval 1. Interval 1 merupakan daerah
meristematik karena berada di pucuk akar. Daerah meristemtik dapat juga
dibuktikan dengan interval paling panjang. Hal itu menunjukkan terdapat sel
yang aktif membelah di interval 1 sehingga mengakibatkan terjadinya pemanjangan
di ujung akar. Sedangkan zona pembelahan
terjadi pada interval 2, 4 dan 5. Zona pembelahan dalam terjadi pada interval
3. Data di atas menunjukan hasil yang berbeda-beda pada setiap ulangan. Hal itu
diperkuat oleh pendapat Yusrianti dalam Julianti dalam Wardatutthoyyibah
(2015), yaitu setiap perlakuan memiliki perbedaan dalam jumlah dan panjang tunasnya, hal
ini diduga karena adanya perbedaan dalam menyerap nutrisi/suplay makan
beserta hormon yang diberikan pada media. Jadi meskipun tanaman yang sama di
tumbuhkan di tempat yang sama, hasilnya tidak selalu sama.
Pada
tanaman, pertumbuhan dan perkembangan dibagi dalam tiga zona atau daerah, yaitu
zona pembelahan atau meristematik, zona pemanjangan dan zona diferensial. Zona
pembelahan (meristematik) adalah daerah paling ujung dan merupakan tempat
terbentuknya sel-sel baru. Daerah ini mempunyai ciri-ciri inti sel yang besar,
dinding tipis serta aktif membelah diri. Zona pemanjangan ialah daerah hasil
pembelahan sel-sel meristem. Sel-sel hasil pembelahan tersebut bertambah besar
ukuranya sehingga menjadi bagian dari daerah pemanjangan. Pada zona pemanjangan
sel-sel memanjang sehingga mendorong ujung akar termasuk meristem ke depan.
Zona diferensiasi ialah daerah dimana sel berdiferensiasi menjadi pola radial,
sehingga sel berubah bentuk sesuai fungsinya (Bazin et al., 2013). Letak daerah diferensiasi yaitu di bawah zona
pemanjangan. Ciri-ciri zona diferensiasi ialah sel-selnya memunyai dinding yang
menebal dan beberapa diantaranya mengalami diferensiasi menjadi epidermis,
empulur dan korteks. Pemanjangan batang yang terjadi pada tanaman disebabkan
karena adanya proses pembelahan, pemanjangan serta pembesaran sel-sel baru yang
terjadi di ujung meristem batang sehingga mengakibatkan tanaman bertambah
tinggi (Safitri dkk dalam Damiska, 2015).
Pada
tabel 4.1 interval yang pertumbuhanya
terbaik adalah interval 3. Hal itu karena interval 3 merupakan interval
terpanjang dibanding interval lainya. Kualitas benih serta kondisi lingkungan
saat perkecambahan menjadi penyebabnya. Sedangkan pada tabel 4.2 tanaman kacang
tanah interval yang pertumbuhanya terbaik adalah interval 1. Interval 1
merupakan interval terpanjang dalam tabel 4.2. Interval 1 tersebut termasuk
zona pembelahan. Hal itu sesuai dengan definisi zona pembelahan, yaitu daerah
paling ujung, tempat terbentuknya sel-sel baru serta aktif membelah diri. Letak
interval 1 yang di ujung akar membenarkan bahwa interval 1 selnya aktif
membelah diri.
BAB
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
pengamatan dan praktikum Pertumbuhan Meristematik Pucuk dan Akar, dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pertumbuhan
di pucuk tanaman lebih cepat di banding pertumbuhan di akar.
2. Pertumbuhan
dan perkembangan dibagi dalam 3 zona, yaitu zona pembelahan (meristematik),
zona pemanjangan dan zona diferensiasi.
3. Pertumbuhan
terbaik pada kacang panjang terjadi pada interval 3 dengan panjang 8mm.
sedangkan pertumbuhan terbaik pada kacang tanah terjadi pada interval 1.
5.2
Saran
Sebaiknya
praktikan ikut langsung dalam praktikum dan pengamatan, tidak hanya beberapa
orang tertentu saja. Kualitas benih,
media serta peralatan praktikum juga perlu diperhatikan agar data
praktikum menjadi lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Adinugraha,
H. A., Mahfudz, E.W. Muchtiari, dan S. Huda. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan
Tunas Pada Bibit Nyamplung Hasil Pembiakan dengan Teknik Sambungan. Pemuliaan
Tanaman Hutan, 6(2): 91-102.
Bazin,
J., G. A. Khan, J. P. Combier, P. B. Sanmamed, J. M. Debernardi, R. Rodrigues,
C. Sorin, J. Palatnik, C. Hartmann, M. Crespi and C.L Biere. 2013. miR396
Affects Mycorrhization and Root Meristem Activity in The Legume. Medicago truncatula. The Plant, 74 (1):
5359-5369.
Damiska,
S., R. S. Wulandari dan H. Derwati. Penambahan Ragi dan Ekstrak Biji Jagung
Terhadap Pertumbuhan Tunas Manggis Secara In
Vitro. Hutan Lestari, 3(1): 35-42.
E.
S, Sri Mulyani. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta:
Kanisius.
Eveland,
A. L,. and P. Jackson. 2011. Sugars, Signalling, and Plant Development. Experimental Botany, 63(9): 3367-3377.
Fahn,
A. 1982. Anatomi Tumbuhan. Edisi ke
3. Diterjemahkan oleh: Ir. Ahmad Soediarto, Ir. R. M. Trenggono
Koesoemaningrat, Ir. Machmud Natasapura, Dra. Hilda Akmal. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Huang,
J. G., A. Deslauriers, and S. Rossi. 2014. Xylem Formation Can Be Modeled
Statiscally As A Function of Primary Growth and Cambium Activity. New Phytologist,
20(3): 831-841.
Prislan,
P., U. Schmitt., G. Koch., J. Gricar and K. Cufar. 2011. Seasonal
Ultrastructural Changes in the Cambial Zone of Beach (Fagus SylvaticaI) Grown at Two Different Altitudes. Iawa, 32(4): 443-459.
Sitompul,
H. F., T. Simanungkalit dan L. Mawarni. 2014. Respons Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Pemberian
Pupuk Kandang Kelinci dan Pupuk NPK. Agroekoteknologi,
2(3): 1064-1071.
Susanti,
H., Mukarlina, dan R. Linda. 2014. Anatomi Daun dan Ranting Citrus Nobilis L. Var. Microcarpa yang Terserang Citrus Vein Phloem Degeration. Protobiont,
3(3):51-55.
Tuheteru,
F.D., Husna, dan L.O. Alimuddin. 2011. Respon Pertumbuhan dan Tingkat
Ketergantungan Albizia saponaria (Lour) Miq Terhadap Fungsi Arbuskula
Mikoriza Lokal Sulawesi Tenggara. Biota,
16(2): 252-261.
Wardatutthoyyibah.,
R. S. Wulandari dan H. Derwati. 2015. Penambahan Auksin dan Sitokinin Terhadap
Pertumbuhan Tunas dan Akar Gaharu. Hutan
Lestari, 3(1): 43-50.
Wasis,
B., D. Mulyana, dan B. Winata. 2015. Pertumbuhan Semai Jabon (Abthocephalus cadamba) Pada Media Bekas
Tambang Pasir dengan Penambahan Sub Soil
dan Arang Tempurung Kelapa. Silvikultur
Tropika, 6(2):2086-8227.











